Buya Hamka, Makassar, dan Spirit Musyawarah Berkemajuan
By Admin on Jan 05, 2026 175x dibaca
Menjelang Musyawarah Daerah Muhammadiyah ‘Aisyiyah Kota Makassar, ada baiknya kita berhenti sejenak dari rutinitas administratif dan kembali menengok jejak sejarah yang kerap dilupakan. Salah satunya adalah hubungan intelektual, kultural, dan spiritual antara Buya Hamka dan Kota Makassar sebuah hubungan yang bukan sekadar romantisme masa lalu, tetapi cermin keberanian gerakan Muhammadiyah.
Sejak film “Buya Hamka” (2023) menyedot perhatian publik, semakin banyak orang baru mengetahui bahwa Hamka pernah tinggal dan berjuang di Makassar. Bukan sebagai tokoh besar seperti yang kita kenal hari ini, melainkan sebagai pemuda berusia 23 tahun, seorang muballigh utusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, di tengah Indonesia yang bahkan belum merdeka.
Tahun 1931, Hamka datang ke Makassar untuk mempersiapkan Kongres Muhammadiyah ke-21 (1932). Dua tahun ia mengabdi, dan pengabdiannya diperpanjang setahun lagi karena Muhammadiyah Makassar merasakan langsung dampak kehadirannya. Hasilnya? Kongres itu berlangsung spektakuler lebih dari 5.000 orang memadati arena, bahkan di luar forum persidangan. Sebuah pencapaian luar biasa untuk gerakan Islam modernis pada masa kolonial.
Namun yang lebih penting dari keramaian itu adalah warisan peradaban. Di tangan Hamka, Muhammadiyah Makassar tumbuh berlipat ganda, bukan hanya secara struktural, tetapi juga kultural. Cabang, ranting, grup pengajian, dan simpatisan bermunculan. Dakwah tidak hanya berwajah mimbar, tetapi menjelma menjadi gerakan sosial-intelektual.
Di Makassar pula, Hamka menjadi kepala Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah pertama dan menggagas Madrasah Mu’allimin, keduanya berlokasi di Jalan Muhammadiyah. Ia menanam fondasi bahwa pendidikan adalah jantung gerakan. Bahkan, Kongres Muhammadiyah ke-21 melahirkan keputusan strategis: Pemuda Muhammadiyah sebagai organisasi otonom dan penguatan literasi melalui media massa. Tidak mengherankan jika semasa di Makassar, Hamka sempat menerbitkan dua majalah Islam sebuah lompatan visi di era keterbatasan.
Yang sering luput dibaca adalah kepekaan kultural Hamka. Ia tidak datang sebagai “orang luar” yang menggurui. Ia justru menangkap denyut budaya Bugis-Makassar tentang siri’, harga diri, muruah, rasa malu, dan cemburu karena Allah yang kemudian ia tuangkan dalam ceramah dan tulisan. Kumpulan gagasan itu kita kenal dalam buku “Ghirah dan Tantangan terhadap Islam”, yang hingga kini tetap relevan di tengah krisis moral modern.
Bahkan dalam karya sastra, Hamka mempertemukan nilai Minangkabau dan Bugis. Zainuddin, tokoh utama novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, adalah simbol keteguhan hati dan komitmen hidup sebuah karakter blasteran Minangkabau–Bugis yang menggambarkan konflik, kesetiaan, dan martabat manusia.
Maka, Musyawarah Daerah Muhammadiyah ‘Aisyiyah Makassar hari ini seharusnya tidak sekadar menjadi arena pergantian struktur. Ia harus menjadi ruang pembacaan ulang sejarah, keberanian visi, dan kepekaan sosial. Jika Hamka pada usia 23 tahun mampu menyalakan api perubahan di Makassar, apa yang kita wariskan hari ini?
Selamat bermusyda. Semoga lahir putusan-putusan berkemajuan yang bukan hanya sah secara organisasi, tetapi mencerahkan secara peradaban.
Wallahu a‘lam.
Ihsanjaya
*Pelajar UMAM
*Perlis Pegawai Unismuh Makassar – Indonesia Asosiasi Halal Sains / Center PTMA