Dari Aceh untuk Dunia: Ilmu, Doa, dan Keberkahan
By Admin on Dec 22, 2025 401x dibaca
Perjalanan Hayyan As-Samawi di Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM)
Di balik setiap capaian akademik yang tampak megah, selalu ada jalan panjang yang dilalui dengan air mata, doa, dan keyakinan. Di Aceh, ia lebih dikenal dengan sapaan Ust. Harley sebuah panggilan yang lahir dari keseharian dakwah dan pengabdian di dunia pendidikan. Seiring perjalanan intelektualnya, ia kemudian menyingkatkan namanya menjadi Hayyan, sebuah pilihan sadar yang mengingatkan pada jejak Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), ulama besar Nusantara yang juga memadatkan namanya sebagai simbol kesederhanaan, keteguhan hati, dan visi keilmuan yang melampaui sekat zaman. Dari nama itulah, perjalanan ilmu dan pengabdian Harley Agustian As-Samawi menemukan ruh dan arah peradabannya.
Hayyan lahir dan dibesarkan di Aceh wilayah yang sejak lama dikenal sebagai Serambi Makkah, tanah para ulama dan pusat peradaban Islam Nusantara. Aceh bukan sekadar daerah asal baginya, melainkan identitas spiritual yang membentuk cara pandang hidup: bahwa ilmu adalah amanah, dan belajar adalah ibadah sepanjang hayat. Ia kini berdomisili di Lhokseumawe, mengabdikan diri di dunia pendidikan dan dakwah.
Menariknya, identitas Hayyan juga dirajut dari lintasan sejarah Nusantara yang panjang. Dari jalur nasab ayah, ia memiliki darah Jawa Kraton Yogyakarta, terhubung dengan trah Cokrodiningrat, trah GRM Murtejo atau Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senopati Ingalaga Ngabdurrachman Sayiddin Panatagama Khalifatullah atau dikenal Sri Sultan Hamengkubuwono VII, yang merupakan anak dari Hamengkubuwono I, pendiri Kesultanan Yogyakarta. Perpaduan Aceh dan Jawa ini seolah menjadi simbol persenyawaan dua pusat peradaban Islam Nusantara: keteguhan iman dan kebijaksanaan budaya.
Sejak awal, Hayyan menanamkan cita-cita besar: menjadi ulama yang penuh karya dan luas manfaat, sebagaimana para pendahulu yang menjadikan ilmu sebagai cahaya peradaban. Baginya, ulama masa depan tidak cukup hanya kuat secara tekstual, tetapi juga harus produktif secara intelektual, mandiri secara ekonomi, dan relevan dalam menjawab persoalan zaman.
Cita-cita itu ia jalani dengan konsistensi. Setelah menyelesaikan Doktor bidang Ekonomi Islam di Islamic University of Minnesota, Amerika Serikat, sebagai upaya memperkokoh fondasi keilmuan syariah, Hayyan kembali melanjutkan ikhtiarnya dengan menempuh Ph.D Business and Management di Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM). Langkah ini diambil untuk memperdalam kapasitas riset, manajemen, dan kontribusi keilmuan dalam skala global. Namun, perjalanan menuju UMAM bukanlah jalan yang lurus dan mudah. Ia penuh dengan drama, ujian kesabaran, dan pelajaran tentang makna keberkahan.
Pada Batch 1 tahun 2024, Hayyan telah mendaftar, namun harus mengubur sementara harapannya karena keterbatasan biaya. Batch 2 tahun 2024, ia kembali memperoleh Letter of Acceptance (LoA), tetapi ujian datang dalam bentuk paspor yang telah habis masa berlakunya, sementara biaya perpanjangan belum tersedia. Harapan kembali tertunda.
Tidak menyerah, Batch 3 April 2025, LoA kembali ia raih. Namun kali ini, kendala muncul pada biaya EMGS (Education Malaysia Global Services) yang belum dapat terpenuhi, sehingga ia harus kembali menunda keberangkatan dan pendaftaran EMGS. Hingga akhirnya, pada Batch 4 Take 1 Oktober 2025, ketika ia berniat mengurus EMGS, kenyataan kembali menguji: biaya yang dibutuhkan ternyata lebih besar dari perkiraan, sementara dana yang dimiliki belum mencukupi.
Di titik itulah, Allah menghadirkan pertolongan melalui tangan-tangan kebaikan. Pada November 2025, seorang jamaah Masjid Taqwa Muhammadiyah Kota Lhokseumawe, Ibu dr. Rahmawati, dengan penuh keikhlasan memberikan support moril sehingga dapat melanjutkan pendidikan di UMAM. Dan dibantu pendaftaran oleh mahasiswa senior UMAM pak Yoga hingga selesai pendaftaran EMGS. Sebuah bukti nyata bahwa keberkahan tidak selalu datang dalam bentuk uang yang dimiliki, tetapi dari hati-hati yang peduli.
Akhirnya, dengan rasa syukur yang mendalam, pada Desember 2025, Hayyan resmi tercatat sebagai mahasiswa Universiti Muhammadiyah Malaysia Batch 4 Intake 2. Sebuah perjalanan panjang yang bukan hanya mengantarkannya ke bangku akademik, tetapi juga menempa jiwanya dengan kesabaran, tawakal, dan keyakinan bahwa setiap kesulitan menyimpan hikmah besar.
Pengalaman hidup inilah yang kemudian mengilhami fokus penelitiannya. Dalam studi Ph.D-nya, Hayyan menaruh perhatian pada tema “Uang dan Keberkahan” mengingat banyaknya permasalahan hidup seseorang selalu terletak pada keuangan, dengan mengaitkan keuangan Islam dan instrumen wakaf sebagai sumber keberlanjutan dan kemaslahatan. Ia meyakini bahwa uang tidak hanya memiliki dimensi ekonomi, tetapi juga dimensi spiritual dan sosial. Melalui pengelolaan wakaf yang produktif dan berbasis riset, ia berharap lahir model keuangan Islam yang membawa keberkahan bagi pelaku usaha kecil, negara, wilayah Aceh, bahkan dapat direplikasi di berbagai belahan dunia.
Di tengah kesibukan studi, Hayyan tetap konsisten mengabdi. Aktivitas hariannya diisi dengan mengajar di Pesantren/Muhammadiyah Boarding School/Dayah Modern Ihyaussunnah Kota Lhokseumawe, serta menjadi dosen di Universitas Islam Kebangsaan Indonesia, Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh, dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Kota Lhokseumawe. Kepakarannya meliputi Ilmu Syariah, Ekonomi Islam, Keuangan Islam, Manajemen Bisnis Halal, Kehalalan Produk, serta Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dan lainnya.
Semangatnya semakin menguat setelah mendengar pesan visioner dari Rektor Universiti Muhammadiyah Malaysia, Ustadz Dr. Saidul Amin. Dalam pesannya, beliau menegaskan bahwa mahasiswa Ph.D UMAM harus berpikir dalam skala internasional, menjadi kader Asia Tenggara, bahkan diplomat-diplomat peradaban pencetak sejarah besar dan figur yang berpengaruh di dunia. UMAM, menurut beliau, tidak dibangun untuk kepentingan sempit, tetapi untuk membangun peradaban dunia dan mencerahkan semesta, sebagaimana makna nama UMAM: umat sedunia.
Pesan tersebut membangkitkan kesadaran mendalam dalam diri Hayyan. Ia meneguhkan niat bahwa perjalanan akademiknya bukan semata untuk gelar, jabatan, atau kepentingan personal, tetapi untuk mencapai level rahmatan lil ‘alamin menjadi pribadi yang ilmunya memberi manfaat lintas batas, lintas bangsa, dan lintas generasi.
Dari Aceh untuk dunia, dari UMAM untuk peradaban, kisah Hayyan As-Samawi adalah pengingat bahwa ilmu yang diberkahi lahir dari kesungguhan, doa, dan keikhlasan. Sebuah pesan kuat bagi generasi muda: jangan berhenti melangkah hanya karena keterbatasan, sebab di balik setiap kesulitan, Allah sedang menyiapkan keberkahan yang jauh lebih besar.
*Hayyan As-Samawi, Mahasiswa di Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM)